Sejarah Maluku hingga RMS (1)

AMBON sejak awal kolonialisme Belanda telah mengalami masa penjajahan penuh penderitaan dan kekejaman yang berkepanjangan, terutama ketika Belanda menerapkan “de kruideniers politiek,” (politik rempah-rempah) di abad ke-17. Semata-mata untuk menguasai rempah-rempah yang sangat potensial yang menjadi primadona ekonomi bagi negara-negara Atlantik Utara.
Mengikut lembaran bangsa-bangsa di Asia-Pasifik, Ambon dan kepulauan Maluku menjadi awal dari mata rantai perdagangan dunia sejak masa silam. Dengan rempah-rempah sebagai komoditi ekonomi utama, turut pula mewarnai sejarah dunia.
Seperti dikemukakan pada lembaran-lembaran sebelumnya, rempah-rempah Maluku sudah dikenal sejak jaman Romawi yang dibawa oleh pedagang-pedagang China yang bermula dengan menggunakan jung-jung China melayari dari kepulauan Maluku hingga daratan Cina dan bersama pedagang-pedagang India melintasi Asia Tengah-Asia Barat hingga berakhir di Beirut, Libanon.
Dari negeri budaya Phoenix ini di sebar oleh pedagang-pedagang Arab di seputar Mediterania, dan bagi Eropa berpusat di Florence dan Genoa untuk kemudian disalurkan ke seluruh benua Eropa. Kegunaan rempah-rempah, terutama cengkih misalnya dari Ternate ataupun biji pala dari kepulauan Banda tak hanya digunakan untuk penyedap makanan, tetapi juga untuk ramuan pengobatan hingga memiliki penggemar dari Timur-Tengah, Mediterania hingga Eropa, dan  termasuk sebagai komoditi potensial di berbagai bursa pasar di kawasan-kawasan itu.
Potensi ekonomi yang dimiliki kepulauan Maluku turut mewarnai konflik di daratan Tiongkok dengan pergolakan di Tiongkok Barat yang di dominasi oleh pemeluk Islam dengan membendung penetrasi Mandarin dari Tiongkok Utara yang ingin menyatukan Tiongkok sebagai kesatuan. Berlanjut dengan masyarakat China Barat melakukan diaspora, sambil memperkenalkan Islam, menyelusuri Asia Tengah, China Tenggara hingga Champa di Indo-Cina Utara, dan dari sana menuju kepulauan Filipina, Maluku Utara, Banda dan Ambon .
Dikepulauan ini mereka menguasai sentra-sentra ekonomi di berbagai kepulauan Maluku penghasil rempah-rempah dan membentuk mata-rantai perdagangan di Jawa hingga Malaka sambil mengembangkan agama Islam pada penduduk setempat. Dari tempat-tempat ini pula mereka berhubungan dengan pedagang-pedagang Arab.
Selain itu, Ambon dan Maluku turut menginspirasi terjadinya pengembangan pencarian benua-benua baru dengan migrasi orang-orang Eropa sebagai dampak dari kaum ulama yang menggunakan agama sebagai alat kekuasaan dengan memberlakukan sistem pemerintahan theokrasi, hingga menimbulkan berbagai pergolakan sosial.
Pengenalan kepulauan Maluku di Eropa di mulai sejak kesultanan Otoman menguasai Konstantinopel (kemudian di ubah menjadi Istambul), memaksa negeri-negeri Eropa mencari jalan menuju Maluku.
Dengan menggunakan jalur lintas niaga laut hasil rintisan pelaut-pelaut Arab yang mahir dengan ilmu falak, para musafir Portugis dan Spanyol, Belanda dan Inggris berhasil mendarat di kepulauan Maluku –Seram, Haruku, Saparua dan Nusalaut.
Pada tiap pulau yang mereka datangi, mereka membangun benteng-benteng dengan maksud untuk melindungi loji-loji niaga sebagai pusat jual-beli rempah-rempah dari penduduk setempat.
Misalnya benteng Duurstede di Saparua, benteng Hoorn di Pelau, benteng Zeelandia di Haruku, benteng Beverwijk di Hila, benteng Rotterdam di Lariki, benteng Wantrouw di Manipa dan benteng Overbrug di Luhu. (GWWC Baron van Hoevell: Ambon en meer bepaaldelijk de Oeliasers, 1875).
Sebelumnya pihak Portugis sudah membangun benteng Victoria pada 1527. Tetapi pada 23 Februari 1605 benteng ini direbut oleh kekuatan satu eskader Belanda pimpinan Laksamana Steven van der Hagen. Sebenarnya Ambon tidak langsung di duduki oleh Portugis ketika mulai mengenal Maluku pada 1512. Kedatangan mereka yang pertama di Hitu ketika disambut ramah oleh penduduk setempat. Baru pada 1525 pihak Portugis mendirikan kantor perwakilan dagang di Ambon . Sebelum kedatangan para musafir Eropa ke Maluku, sudah ada hubungan perdagangan antara Maluku dengan Tuban dan Pati di pantai utara Jawa yang sempat menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang Arab yang juga mengembangkan agama Islam di Jawa hingga Hitu. Sejak abad ke-17 Maluku ramai di kunjungi para ulama Arab dari Jawa. Bahkan Sultan Ternate pernah berkunjung ke Tuban dan Pati serta pernah memasuki pesantren untuk mendalami Islam di Jawa. Sejak itupun terjalin hubungan niaga dengan Kesultanan Tuban.
Ambon sebelumnya sudah menjalin dengan dunia luar di masa silam. Kepulauan Maluku sudah menjadi bagian dari lintasan niaga dunia melalui Jawa, Malaka, Tiongkok, India dan Persia dengan kapal-kapal niaga mereka setiap tahun berlayar hingga Ternate, Tidore dan Banda.
Dari cerita legenda lama penduduk Ihamahu di Sapurua bahwa mereka turunan dari pelaut-pelaut Kalinga ( India ) yang terpaksa menetap karena kapal mereka tenggelam.
Raja dari Nusaniwe di Letimor menurut tulisan Valentijn berasal dari Jawa. Di Hitu terdapat sebuah perkampungan bernama Massapait yang berasal dari Majapahit. Hitu memiliki penulisan sejarah berkat jasa Imam Ridjali, penulis yang giat dengan penulisannya pada kurun 1640-1650.
Valentijn menggunakan buku Ridjali, “Hikajat Tanah Hitu” sebagai sumber penulisan bukunya tentang Maluku. Ridjali pada bukunya mengungkapkan bahwa kepulauan Hitu di huni oleh kelompok-kelompok masyarakat dari Tanuno (Seram-Barat, Gilolo ( Halmahera ), Tuban (Jawa) dan Goram, sebuah pulau di Seram Timur. Begitu juga pulau Bacan yang kaya dengan kesuburan tanaman cenkih dan berdekatan dengan Ternate yang juga menjadi daya tarik migrasi penduduk pulau-pulau disekitarnya.
Sejak penyatuan Portugis dengan Spanyol pada 1580, ternyata telah melemahkan posisinya terhadap daerah-daerah fazalnya di kepulauan Maluku. Sementara Belanda setelah meraih kemenangan dari perjuangan kemerdekaan melalui perang 80 tahun dari kolonialisme Spanyol di akhir abad ke-16 telah menjadi kekuatan baru di Eropa. Sebagai hasilnya,  posisi Portugis tergusur oleh Belanda sejak abad ke-17, dengan menguasai Ambon pada 1605. Sejak itupun Belanda mengubah benteng Victoria berubah menjadi “Kasteel Victoria ” dan menjadi pusat administrasi pemerintahan untuk wilayah Maluku guna memperkuat politik monopoli rempah-rempah di seluruh Maluku. Sejak itupuna Maluku berada dibawah cengkeraman Belanda untuk menguasai komoditi rempah-rempah, demikian J Keuning dalam tulisannya, Ambonnezen, Portugezen en Nederlanders,” pada majalah Indonesie, IX, 1956).
Keuning menulis: “Dengan 5 kapal perang, di dukung 26 perahu kora-kora dengan kekuatan 900 serdadu dan matros Belanda dan 2000 orang Ambon dari Leitimor dan Uliase, di bawah pimpinan Gubernur Ambon, Herman van Speult dan wakilnya, Jan van Gorcum pada 14 Mei 1625 menyerbu Hoamoal di Seram. Serangan dadakan ini tidak siap diahdapi penduduk. Sekalipun berusaha melawan, tetapi tidak berdaya menghadapi kekuatan penyerang yang dengan kejam dan ganas membantai dengan tembakan dan memancung leher. Selain itu menebang semua tanaman kelapa, cengkih dan semua pohon sagu yang terdapat di pulau itu. Semua perahu perahu penduduk yang berada di pesisir pantai dan tepi sungai dihancurkan. Aksi pembantaian yang dilakukan terhadap pulau-pulau lainnya selama 6 minggu telah membawa penderitaan bagi penduduk. Sekitar 65.000 pohon cengkih ditebang dan di rusak oleh aksi penyerangan ekspedisi Belanda ini. Sejak itupun kebencian terhadap Kompeni di kalangan penduduk sangat besar.”
Walau sering melakukan ekspedisi kekejaman, tetapi perlawanan rakyat Maluku tetap berkobar terhadap Belanda. Seperti yang terjadi di Kahiali pada 1634 ataupun di Tuluapessi pada 1646. Pihak Belanda menindak tidak saja terhadap pribumi, tetapi juga dengan pesaing-pesaing dagangnya. Misalnya membantai orang-orang Inggris di Ambon. Peristiwa ini terjadi pada 2 Februari 1623, seorang Letnan Inggris kedapatan oleh seorang serdadu Jepang yang sedang bertugas, memasuki benteng Victoria dan berada di tempat yang tidak boleh di masuki oleh orang asing. Iapun di tangkap oleh serdadu Jepang yang bekerja untuk tentara Belanda. (Waktu itu pihak Belanda banyak menggunakan legiun asing, termasuk orang-orang Jepang sebagai tentara sewaan). Kepada atasannya, tentara Belanda, serdadu Jepang ini mengatakan ia sudah sering melihat letnan Inggris ini bergentayangan di benteng pada malam hari, dan menyelusup pada saat terjadi penggantian garnisun jaga. Esok harinya Gubernur Herman van Speult langsung mengintorigasi perwira Inggris ini. Sebelumnya, ia di siksa berat dahulu hingga mengaku melakukan pekerjaan mata-mata atas instruksi atasan.
Pengakuan ini menjadi pegangan van Speult sebagai bukti untuk mengatakan keyakinannya bahwa: Inggris secara rahasia melakukan persaingan curang dan pada suatu kesempatan yang baik bersama penduduk-penduduk pribumi mengusir Belanda.
Untuk itu beberapa orang Jepang, yang juga mengaku setelah disiksa berat bahwa Inggris merencanakan penyerbuan terhadap benteng Belanda.
Dengan dukungan Dewan, Van Speult menangkap semua orang Inggris. Selama beberapa hari mereka ini disiksa, dimana dua tahanan Inggris karena tidak tahan oleh siksaan meninggal. Mata-mata Inggris itu, Gabriel Towerson, mengakui bahwa ia datang ke Ambon dengan kapal Inggris sambil menunggu hingga benteng Belanda diserbu.
Adanya usaha itu, maka pada 6 Maret 1623, Gubernur Van Speult dengan dukungan Dewan kota memvonis hukuman mati terhadap 10 orang Inggris, 10 orang Jepang dan seorang Portugis dan di eksekusi pada hari itu juga. Dua orang Inggris dibiarkan hidup, karena harus mengurus dan bebenah semua perlatan kantor niaga Inggris di Ambon untuk dibawa ke Batavia oleh kedua orang itu.
Begitu tiba di Batavia , salah seorang berhasil melarikan ketika dalam perjalanan menuju kantor niaga Inggris.
Peristiwa ini terungkap di London dan pemerintah Inggris langsung mengirim surat protes kepada pemerintah Belanda terhadap warganya di Ambon oleh Gubernur van Speult yang di kenal dengan “Ambonse Moord” (Pembantaian Ambon) yang memperburuk hubungan Belanda dengan Inggris cukup lama. Bahkan masyarakat Inggris juga membenci orang-orang Belanda seperti terungkap oleh penyair kenamaan John Dryden, yang pada 1673 dalam syairnya dengan sedih menulis: “Amboyna, or the Cruelties of the Dutch to the English of the Dutch to the English Merchant.” Begitu pula pada 1712 di London muncul tulisan History of the Barbarous Cruelties and Massacres, Committed by the Dutch in the East Indies , (W P Coolhaas: Aantekeningen en opmerkingen over den soogenaamden Ambonschen Moord, 1942).
Setelah dilakukan penyelidikan 40 tahun kemudian, ternyata tuduhan penyelundupan oleh penduduk Hoamoal tidak berdasar dan tidak melanggar aturan hingga penduduk menderita.
Setelah itu Gubernur Ambon, Arnold de Vlaming van Oudshoorn melakukan pemindahan pendudukan dengan mengosongkan pulau Hoamoal. Dalam tulisannya, Keuning mengungkapkan mengenai proses pemindahan oleh De Vlaming van Oudshoorn: “Seluruh penduduk di Hoamoal harus di kosongkan, kendati pulau yang subur ini padat penduduk yang berjumlah sekitar 12.000 jiwa. Masyarakat Islam diangkut dan dipindahkan ke pulau Hitu, dan mereka kehilangan Orang kaya-kaya (pemuka) yang dibawa ke benteng untuk di jadikan sandera. Orang-orang biasa dibagi-bagi dan menghuni kampung-kampung yang terdapat di Hitu, dan keluarga-keluarga di pisahkan. Misalnya ayah dan anak, atau adik kakak, tidak boleh hidup bersama dan saling hidup terpisah. Sementara raja-raja dari Hitu, yang berusaha membendung invasi pendatang secara terpaksa dari Hoamoal, karena merasa terancam, tak dapat berbuat apa-apa karena ancaman dari Belanda. Para wanita merasa lebih baik di tinggalkan suami-suami mereka daripada berpisah dengan anak-anak. Gubernur de Vlaming benar-benar kejam, karena siapapun yang melanggar aturan menurut kehendaknya langsung di bunuh. Apa lagi ia di dukung baik oleh pemerintah VOC di Batavia maupun oleh Dewan Kota di Ambon. Belanda dengan semaunya menyiksa dan membunuh penduduk yang menjadi budak, rumah-rumah mereka di jarah…
Penduduk pemeluk Kristen dan pemeluk berhala di Hoamoal juga menerima nasib yang sama: mereka di paksa harus pindah ke Leitimor. Pemindahan ini terjadi pada 6 Maret 1656. Yang tragis, 5 perahu yang membawa mereka tenggelam akibat cuaca buruk. Nasib serupa harus pula dialami penduduk pulau-pulau Boano, Kelang dan Amblau yang juga harus di pindahkan. Penduduk-penduduk ini dikonsentrasikan di pulau Manipa, sementara suami-suami mereka dan laki-laki lajang di angkut ke Ambon . Ribuan penduduk pemeluk Islam di Ihamau, Saparua bersama penduduk Madjira ramai-ramai di pindahkan ke Seram. Mereka sama sekali tidak diperkenankan kembali.
Pada 1657 banyak orang kaya-kaya yang oleh gubernur De Vlaming yang mulanya berada di benteng –berjumlah 282 orang- di angkut ke Batavia . Sejak itupun pulau Hoamoal benar-benar di kosongkan. Perkampungan- perkampungan disana di bumi hanguskan, pohon-pohon cengkih dikuliti dan dibakar. Perkebunan pohon-pohon sagu dihancurkan. Pokoknya pulau itu di jadikan rata tanah. Dari kesemuanya itu hanya daerah-daerah Ambon dan Uliase yang menjadi pusat produksi penanaman cengkih. Begitu pula pertanian cengkih di Ternate, Halmahera dan Bacan dan pulau-pulau lainnya disekitar Maluku Utara di batasi tetapi diawasi ketat. Sultan Mandarsjah khusus datang ke Batavia dengan beaya sendiri di bawa oleh VOC.
Ia hanya memperoleh 12.000 Florin setahun sebagai imbalan, tetapi semua pohon-pohon cengkih di wilayah kesultanan dihancurkan. Operasi Hongi-tochten berlangsung tahunan diluar Ambon dan Uliase. Walau begitu di beberapa pulau yang di izinkan menanam ribuan pohon-pohon cengkih tetapi langsung untuk pihak VOC.”
Aksi Perlawanan Thomas Matulessy
Terdapat disuatu tempat di bagian kota Ambon yang menjadi saksi kekejaman Belanda selama berkuasa. Letaknya di antara daerah benteng dengan desa Amahusu. Ditempat itu terdapat sebuah batu yang pada 1818 pahlawan nasional Ambon, Thomas Matulessy atau yang lebih dikenal dengan gelar Pattimura (Panglima) di gantung oleh pemerintah Hindia-Belanda. Setelah itu jenasahnya di masukkan kedalam kerangkeng untuk kemudian di buang kelaut di pantai Batucapeu. Hukuman terhadap Thomas Matulessy merupakan hukuman pertama yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda, dalam usaha Matulessy memperjuangkan kemerdekaan Maluku dengan aksi perlawanan terhadap Belanda setelah Belanda kembali menguasai Indonesia setelah Perang Napoleon di Eropa berakhir.
Perang Napoleon berakhir ketika Napoleon Bonaparte, pelaku utama prahara di Eropa sejak 1793 hingga 1815 dibuang ke pulau Sint Helena. Sejak itupun wilayah Indonesia yang sempat dikuasai oleh Inggris yang direbut dari kaum Republik Belanda yang pro Prancis setelah merebut Jawa pada 1810 dikembalikan kepada Belanda. Walau begitu, pihak Belanda belum dapat menguasai kepulauan Maluku sepenuhnya ketika berusaha menerapkan politik monopoli kembali. Lagi pula masa Inggris berkuasa, praktek “hongi-tochten” langsung dihapuskan, karena Inggris sempat mengalami trauma dan menjadi korban “pembantaian Ambon” oleh Belanda dua abad lalu. Walau jajahan Belanda di Asia-Tenggara sudah di kembalikan, tetapi Belanda belum lagi dapat menguasai Maluku sepenuhnya. Dan penduduk Maluku waktu itu mulai bangkit untuk tidak ingin di jajah oleh Belanda yang kejam.
Peristiwanya bermula ketika seorang anak muda Belanda mendarat di Saparua dari Batavia , setelah di tunjuk menjadi residen oleh pemerintah Hindia-Belanda. Dengan pembawaan sikap angkuh untuk mengembalikan politik monopoli rempah hingga Van den Berg sama sekali tidak di senangi penduduk. Thomas Matulessy yang asal Honimoa dan telah menjadi penduduk Saparua berhasil mengumpulkan penduduk barisan sakit hati dan mendendam oleh kekejaman Hongi Tochten Belanda, mulai bangkit dan dengan cepat menduduki benteng Duurstede dan membunuh semua orang-orang Belanda disitu termasuk Residen van den Bergh. Hanya anaknya yang masih kecil bersama pengasuhnya tidak di bunuh.
Pasukan pertama yang ingin membantu Belanda dan ketika mendarat di Saparua, berhasil di lumpuhkan. Untuk itu pemerintah do Batavia langsung mengirim pasukan dalam jumlah cukup besar melakukan ekspedisi ke Maluku, dan mengalahkan kekuatan para pejuang kemerdekaan Maluku di Saparua serta menangkap Thomas Matulessy dan dibawa ke Ambon untuk di adili dan di vonis hukuman mati. Sebelum di eksekusi, oleh pemuda-pemuda ia di beri gelar “Pattimura” yang berarti melanjutkan perjuangan kemerdekaan Ambon . (JBJ van Doren: Thomas Matualesia, het hoofd der opstandelingen op het eilan Honimoa, na de overname van het Bestuur der Molluken door den Landvoogd Jacobus Middelkoop in 1817 (1857), in P H van der Kemp: Nadere mededeelingen over den opstand van Saparua,” in BKI, 79 (1923).
Aksi perlawanan oleh Thomas Matulessy yang kemudian disebut sebagai “Pattimura” merupakan perlawanan gigih yang menonjol di Maluku menghadapi kolonialisme Belanda.
Selanjutnya sejak abad ke-19 hingga 20 Ambon dinyatakan setia kepada kerajaan Oranje, yang mulanya sukar dipercaya, karena masyarakat Maluku sangat menderita oleh kekejaman Belanda dengan operasi “Hongi-tochten” demi kepentingan politik monopoli rempah-rempah. Yang terakhir ini baru mulai dihapus secara respektif pada 1864 dan 1873, ketika di Negeri Belanda mulai dilakukan perombakan terhadap politik perdagangan bagi pembangunan yang selama ini telah merusak citra Belanda hingga pemerintah di kecam oleh publik.
Pengembangan Kristen di Maluku
Pengembangan agama Kristen Protestan di Maluku baru mulai dikembangkan pada abad ke-19 melalui hasil rintisan Pendeta Joseph Kam, yang dimulai dengan setengah dari jumlah penduduk kota Ambon memeluk agama Kristen, sementara yang lainnya tetap menganut agama Islam. (I H Enkelaar: Joseph Kam: Apostel der Molkukken, 1963).
Misionaris Amerika, Frank L Cooley dalam disertasinya, Altar and Throne in Central Moluccan Societies menilai bahwa pengertian Kristen yang di ajarkan di Maluku tidak dilakukan secara mendalam, dan lebih mengarah berkiblat pada sistem Kristen Eropa Barat. Penerapan kristiani di Ambon di kembangkan dengan menggunakan bahasa Melayu (baca Indonesia ).
Biasanya, para pendeta yang memimpin kebaktian di gereja di lingkungan Gereja Protestan Maluku (GPM), yang merupakan organisasi kegerejaan tertua di Ambon , dengan menggunakan bahasa Belanda melulu menerapkan secara seremonial. Pengembangan agama Kristen di Maluku tumbuh pesat dan turut meningkatkan pembawaan sikap Kristiani, hingga ikut menenangkan keadaan masyarakat yang dilakukan oleh guru-guru agama, untuk menjadi guru ataupun berprofesi menjadi pegawai di pemerintahan, sementara yang lainnya memasuki dinas militer KNIL. Sejak itupun serdadu asal Ambon di nilai paling setia dibawah panji kerajaan Oranje.
Pengenalan Militer
Pengenalan militerisme di Ambon baru mulai terjadi pada 1840. Melalui surat keputusan Kerajaan Belanda pada 12 Juni 1840 terbentuk suatu formasi kesatuan Ambon yang terdiri dari 763 personal. Dalam ultimo pada tahun itu juga terdapat 1030 prajurit Ambon, pada 1850 sebesar 800 dan pada 1850 dengan 790 personal. Formasi kesatuan militer Ambon pada 1852 berjumlah 1744, suatu kenaikan 30%.
Perekrutan pada 1855 mencapai 1118 dan ditambah lagi di tahun itu dengan 350 personal. Sementara pada 1864 menjadi 872 personal.
Dalam tingkat penghasilan, jumlah perolehan premi yang diraih prajurit yang berdinas 6 tahun sebesar 60 gulden, sedangkan yang berdinas 2 tahun memperoleh 40 gulden. Walau begitu penggunaan Maluku sebagai prajurit tak dapat bertahan.
Pada 1860-67 hanya mencapai 300, dan 1868-73 menurun lagi pada 280 saja. Namun di lain pihak terjadi kenaikan premi menjadi 100 gulden bagi yang berdinas hingga 6 tahun, bahkan pada 1875 meningkat hingga 200 gulden bagi yang berdinas 6 tahun dan 120 gulden yang berdinas 4 tahun. Sehubungan dengan keluarnya surat keputusan pemerintah tahun 1873 (SK 5 September no.24) dan 1875 (SK 13 April no.30) dilakukan perekrutan oleh residen-residen Ternate, Manado dan Maluku. Perolehan premi dinaikkan masing-masing: 50 gulden untuk dinas 2 tahun, 150 gulden untuk 4 tahun dan 240 gulden untuk 6 tahun. Bagi yang di kontrak hingga 25 tahun memperoleh premi 300 gulden untuk sersan, 240 gulden untuk kopral dan 200 gulden untuk fusilier (prajurit bersenapan). Disamping itu juga mendapatkan 50 gulden bagi mereka yang berprestasi di lapangan. Adanya pendapatan ini hingga menyengangkan bagi pribumi memasuki dinas militer, bukan saja bagi orang-orang Malaku, tetapi juga ethnis-ethnis lainnya.
Untuk peningkatan karier di bidang militer, orang-orang Maluku baru mendapat kesempatan  memasuki sekolah pendidikan militer baru terjadi pada 1915. Waktu itu pendidikan untuk meraih pangkat Letnan II. Pada 1916 boleh mengikuti KMA (Koninkijke Militaire Academie) sekolah Kadet bagi pemuda-pemuda Maluku. (Ecyclopaedie van Nederlandsch Indie (1917).
Keterampilan perang Kapitan Jonker
Nama Kapitan Jonker asal Ambon juga dikenal pada sejarah kolonial Belanda. Putera dari Sangaji Kuasa dari Manipa yang letaknya antara pulau Seram dan Buru di lahirkan pada 1630. Ia menemani ayahnya ketika orang kaya-kaya Manipa ini menjadi sandera Belanda di Ambon. Pada 1656 ia menjadi pelayan Gubernur Ambon, Arnold De Vlamingh van Oudshoorn yang menyenanginya karena keberanian yang sering diperlihatkannya hingga memberi nama bagi putra pribumi asal Manipa ini menjadi Jonker.
Pada 14 Agustus 1656, setelah bergabung dengan pasukan De Vlaming van Oudshoorn tiba di Batavia . Ia sangat menonjol karena keterampilannya dalam perkelahian hingga ia menjadi pengawal keamanan bagi Gubernur-Jendral Rijcklof van Goens dan turut bersamanya ke Hindia Muka ( India ) dan Ceylon (kini Srilanka). Dalam suatu pertempuran di Jafnapatam, tangan kirinya kena tembakan dan hancur. Sejak itupun ia hanya bertangan satu. Walau begitu ia tetap di ikut sertakan dalam berbagai peperangan. Karena kemahiran dan keberaniannya di medan perang hingga ia memperoleh pangkat Kapten, tetapi sejak itu ia lebih dikenal dengan sebutan Kapitan Jonker yang angker.
Pada 1659, Jonker kembali ke Batavia , dan pada 1 Januari 1665, ia diangkat sebagai pimpinan orang-orang Ambon di Batavia. Pada 1666 di bawah pimpinan Verspeet en Poolman ia di ikut sertakan dalam perang di pantai Barat, dan pada tahun itu oleh Cornelis Speelman ia diikut sertakan berperang di Makassar, Ternate, Banda dan Ambon . Dari hasil keterampilan peperangan yang dilakukannya hingga oleh Speelman ketika berada di Batavia pada 1672, Kapitan Jonker memperoleh akte kenaikan gaji bintang jasa dan surat penghargaan yang di tulis di atas kulit binatang dan tutupi dengan kotak berlapis emas.
Pada 1679, ia bersama kesatuannya dilibatkan dalam peperangan di pimpin Kapten Couper di Jawa Timur.
Setelah itu bersama kesatuannya asal Ambon ditugaskan menjadi pengawal Susuhunan dari Mataram setelah berhasil melumpuhkan kekuatan Trunojoyo yang ingin menyerang Mataram. Sebagai jasanya, ia memperoleh rantai emas bernilai 300 ringgit. Pada 1681, ia mendampingi Kapten F Tang dalam ekspedisi militer di Palembang dan Jambi. Berlanjut ketika mengalahkan kekuatan Sultan Abu’lFatah dalam perang Banten 1682-83.
Namanya mulai tenggelam dan dilupakan ketika pelindungnya, Cornelis Speelaman meninggal. Kapten Jonker tewas ketika di Batavia dalam suatu konflik agama antara Kristen dan Islam pada 1689. (Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, II, 1918).
Ambon pada 1930’an
Ambon pada waktu itu kurang disentuh oleh sentimen nasionalisme Indonesia . Pemuda-pemuda pelajar Ambon yang beripkiran maju umumnya berada diperantauan terutama di Jawa dan bergaul dengan rekan-rekan pelajar dari berbagai ethnis di berbagai sekolah dan perguruan-perguruan tinggi di kota-kota besar di Jawa dan Sumatra .
Di Jawa –dan bukan di Ambon – didirikan berbagai kumpulan atau perhimpunan Maluku. Misalnya, pada 1909, dr W K Tehupeori mendirikan Ambonsch Studie-fonds untuk pelajar-pelajar Ambon di Batavia.
Organisasi politik pertama untuk masyarakat Maluku di Jawa, Jong Ambon pada 1918 oleh L Tamaela. Kemudian muncul organisasi politik Maluku kedua, Sarekat Ambon pada 9 Mei 1920 oleh John Patty. Di antara kaum nasionalis, asal Maluku, selain John A Patty, juga Mr. Johannes Latuharhary, Oom Piet de Queljoe, dokter Tom Pattiradjawane, Sam Malessy dan Urbanus Pupella.
Walau begitu sebagian besar dari masyarakat Ambon , terutama setelah pasca perang dunia kedua masih terlihat loyal terhadap Belanda dengan ucapan: “door de eeuwen trouw aan het Huis van Oranje.” (Selama-lamanya setia kepada Kerajaan Oranye).
Ini terlihat ketika pada masa pendudukan Jepang, sebagian besar dari prajurit-prajurit KNIL asal Ambon tetap setia kepada Belanda hingga memenuhi kamp-kamp tawanan. Padahal di Ambon pada masa pendudukan, berbagai kepulauan di Maluku di jarah habis-habisan oleh tentara Jepang. Ambon juga harus menderita pada Perang Dunia II, karena kota ini menjadi korban dari aksi pemboman bertubi-tubi oleh pembom-pembom Sekutu selama Perang Pasifik.
Begitu pula ketika pasukan akan mendarat pada 1945, kota Ambon di hujani pemboman bertubi-tubi hingga sebagian besar dari kota rata tanah. (Ernst Utrecht: Ambon, Kolonisatie, Dekolonisatie en Neo-kolonisatie, 1971).
Latar Belakang berdirinya RMS
Ir J A Manusama dalam bukunya Om Recht en Vrijheid (Memperjuangkan Kemerdekaan) menulis: “Ketika terjadi kapitulasi oleh Jepang pada 15 Agustus 1945, kebangkitan kemerdekaan hampir di seluruh Indonesia tumbuh… sementara masyarakat Maluku Selatan bersikap apatis dan tidak perduli satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat terjadi karena selama ini masyarakat disini terkucil dan tidak pernah tersentuh oleh pengenalan nasionalisme dengan kaum nasionalis dari Maluku yang berada di Jawa yang tak pernah berhubungan sejak sebelum Perang Dunia II.
Kendati ketika proklamasi Republik Indonesia tercetus, disambut sangat entusias oleh kaum nasionalis asal Ambon seperti Mr Latuharhary, Oom Piet de Queljoe dan Sam Malessy. Tetapi sebagian besar dari militer KNIL asal Ambon yang umumnya menjadi tahanan masa pendudukan Jepang di Jawa bersikap sama dengan masyarakat di Maluku Selatan. Sementara pemuda-pemuda asal Maluku di Jawa –Herman Pieters, Domingus Nanlohy, Leo Lopulisa, Gerrit Latumahina, Gerrit Siwabessy dan banyak lainnya- dengan spontaan ikut masuk dalam barisan perjuangan kemerdekaan Indonesia, dan juga memasuki TKR. Begitu pula dua perwira eks KNIL seperti Julius Tahja dan J Muskita bergabung dengan Republik. Bahkan mereka juga membentuk kesatuan asal Maluku dan turut berperan dalam TNI. Sementara sebagian lainnya juga menjadi pasukan pengawal Presiden.
Ketika pasukan Sekutu mendarat di Ambon dan mengambil kekuasaan dari Jepang, penduduk Ambon yang sebagian besar buta politik, menyambut pasukan Sekutu dan kembalinya kolonialisme Belanda. Dengan cepat Belanda menguasai dan mengendalikan pemerintahan, dan membentuk sistem pemerintahan federal yang merupakan yang pertama diterapkan di Indonesia. Bersama dengan beberapa kumpulan pulau-pulau lainnya terbentuk kelompok Maluku Selatan. Kemudian berkembang dengan pengadaan status otonomi dengan dibentuknya lembaga Zuis-Molukken Raad (ZMR) (Dewan Maluku Selatan). Pada bulan April 1946 untuk pertama kalinya dilakukan pertemuan ZMR. Dewan ini terdiri dari 28 pilihan dan 7 anggota yang ditunjuk. Juga terdapat dari penduduk yang ikut mendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia 1945 duduk sebagai anggota dewan.
Termasuk pula pemuka Republik, seperti Urbanus Pupella. Salah seorang Republik, dokter J B Sitanala, pemberantas penyakit lepra dan dikenal di dunia internasional juga berada di Ambon.
Pada masa pendudukan Jepang, ia berada di Jawa, tetapi pada 1946 ia kembali ke Ambon . ZMR di pimpin oleh residen Belanda, P M Vissers. Pada 24 Desember 1946, pada konferensi akbar di Denpasar, Bali terbentuk Negara Indonesia Timur. Pada 11 Maret 1947, ZMR memutuskan untuk menjadi bagian dari NIT. Tetapi putusan itu ternyata tidak mendapat dukungan sepenuhnya, hingga pada 1950, waktu RMS di dirikan baru diputuskan untuk menjadi bagian dari NIT.
Para pendiri RMS yang terakhir ini pada awal 1950 tak ingin bergabung dengan Indonesia Timur yang diperkirakan akan bergabung dalam negara kesatuan RI Proklamasi 1945.
Hingga awal 1950 di Ambon terdapat 3 partai politik. Yang pertama adalah Partai Indonesia Merdeka (PIM) oleh Urbanus Pupella. Partai ini bertujuan untuk menggabungkan Ambon dalam kesatuan Republik Indonesia . Yang kedua adalah Gabungan Sembilan Serangkai (GSS), yang kepemimpinan dan kepengurusannya terdiri dari pemimpin-pemimpin kampung-kampung ataupun raja-raja yang berhaluan konservatif dan pendukung-pendukung nya adalah para ambtenaar atau pegawai-pegawai administrasi pemerintah yang tidak ingin menggabungkan diri dalam kesatuan Republik Indonesia . Partai yang ketiga adalah Gerakan Democrat Maluku Selatan (GDMS) pimpinan J A Manusama, yang kemudian menjadi Presiden RMS. Partai ini juga ingin berdiri sendiri dan terpisah dari kesatuan RI.
Orang-orang Ambon umumnya sangat lugu dan memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi. Hal ini tergambar pada pandangan Ernst Utrecht dalam bukunya, berpendapat: “Berbicara mengenai dunia politik, pada umumnya masih asing bagi masyarakat Maluku dan belum membudaya. Orang Ambon baru sibuk bilamana ia sendiri, keluarganya atau teman-temannya terancam, dan bersikap spontan tanpa memahami permasalahannya dahulu dalam mengambil keputusan. Sikap dan pembawaan ini hingga ia mudah menjadi korban politik praktis. Padahal mereka sangat setia dan dalam unsur-unsur keagamaan, rajin kerja di kantor, dan pembawaannya dalam pergaulan sangat ceria dengan siapapun yang disenanginya.”
Ketika pada 1945, Belanda kembali menguasai Ambon, langsung dibangun dengan pembangunan rumah-rumah, pertokoan dan gedung-gedung perkantoran hingga Ambon ini mulai berbentuk sebagai kota . Kota yang sempat botak, karena pada masa peperangan pohon-pohon kenari di tebang untuk digunakan sebagai kayu baker. Sebagai hasilnya, menjelang penyerahan kedaulatan kehidupan Ambon sudah menjadi lebih baik, dan kota Ambon mulai menjadi indah dan kehidupan menjadi tenang, karena kegiatan ekonomi sudah membaik. Bahkan lebih baik di banding dengan kota-kota besar di Indonesia , terutama Jawa dan Sumatra yang hancur sebagai akibat dari revolusi. Sementara Ambon tidak pernah mengalami revolusi sosial ataupun revolusi fisik setelah pasca Perang Dunia II.
Sumber: Media Indonesia.com

0 komentar: